Belajar Merelakan Masa Lalu Lewat Film Ziarah

Belajar Merelakan Masa Lalu Lewat Film Ziarah

Velodrome – Film Ziarah adalah salah satu film yang mengajak para penontonnya untuk berkontemplasi, berdamai dengan masa lalu, dan belajar memahami sebuah upaya dari seseorang untuk bertanggungjawab atas kesetiaan.

Karena setiap manusia hidup dengan berbagai pengalaman dan memori yang terangkum dalam sebuah kenangan. Ada yang menguburnya, ada yang yang berusaha menyelesaikan urusan mereka di masa lalu. Ada kenangan yang indah, ada pula kenangan yaang tragis.

Film Ziarah bercerita tentang perjalanan Mbah Sri (diperankan oleh Ponco Sutiyem), seorang nenek berusia 95 tahun mencari suaminya yang pergi berperang saat masa agresi Militer Belanda ke-2 di tahun 1948. Ia terpisah dengan suaminya bernama Prawiro yang dikabarkan gugur dalam perang.

Kemudian Mbah Sri ingin mencari makam suaminya dengan menemui sahabat-sahabatnya dan berbekal informasi yang minim. Dalam perjalanan, ia bahkan mendengar fakta baru yang ia dengarkan langsung dari orang terdekat suaminya.

Perjalanan Mbah Sri menyelipkan sebuah cerita yang lebih besar tentang gambaran situasi bangsa Indonesia kala itu. Meskipun tak cukup menonjol dalam film, penonton akan mengetahui titik-titik peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang pedih seperti momen pada tahun 1965.

Bukan hanya menjadi perjalan fisik tetapi juga memainkan kesiapan mental untuk menjelajahi kembali masa lalunya yang menyakitkan. Pada akhirnya, Mbah Sri hanya bisa bersikap pasrah atas segalanya.

Selain akting natural yang dimainkan oleh Ponco Sutiyem dan Rukman Rosadi, film Ziarah juga menampilkan kemampuan akting dari  Ledjar Subroto dan Vera Prifatamasari. Sang sutradara asal Yogyakarta yang mengagrap film iarah yakni BW Purwa Negara memang punya gamabran tersendiri saat mewujudkan karya sinematografi yang satu ini.

BW Purwa tidak mengharapkan sebuah film yang bertabur bintang dan gamabr visual yang menajubkan. Ia berusaha berfokus pada inti sebuah film yakni cerita. Ia memberanikan diri dengan memunculkan aktor dan aktris baru yang jauh dari kata populer. Ponco Sutiyem adalah tokoh utama yang bukan berasal dari latar belakang petani di Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Berbekal dengan kemampuan akting yang minim, Mbah Ponco memiliki kenangan yang hampir sama saat suaminya ditangkap Belanda. Alhasil, akting Mbah tampil secara apik seperti seseorang yang mengalami sendiri cerita dalam film tersebut. Dengan panduan dari sang sutradara, akting dari beberapa pemeran pendukung pun terlihat natural dan otentik.

BW Purwa Negara memang menjadikan film ini bukan sebagai film box office, ia mempunyai visi untuk memberikan sebuah makna mendalam melalui film. Sutradara yang sukses lewat beberapa film pendek tersebut menyajikan suguhan hiburan dari orang biasa.

Jika Anda melihat film Fences yang dibintangi oleh Diesel Washington dan Viola Davis, film ini menjadi suguhan serupa ketika seorang rakyat biasa diangkat dalam sebuah film. Jika penasarand engan film ZIarah, Anda bisa menikmati film tersebut dibioskop Indonesia yang bakal ditayangkan mulai 18 Mei 2017.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account