Festival Kain Ikat Jadi Aktivasi Kekayaan Tekstil Nusantara

Festival Kain Ikat Sumba Jadi Aktivasi Kekayaan Tekstil Nusantara

Velodrome – Produk Tekstil berbasis kesukuan menjadi salah satu kekayaan intelektual budaya Indonesia. Batik sudah dipromosikan terlebih dahulu melalui pemerintah dan pelaku industri ke kancah internasional. Selain itu, ada pula tenun ikat yang tidak kalah daya tariknya dengan batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Salah satu cara pemerintah mendorong pariwisata adalah meningkatkan aspek atraksi dari tempat wisata. Upaya tersebut ditunjukkan dengan mengadakan festival atau seni pertunjukan yang dapat mengundang para wisatawan. Meskipun kain tenun ikat Sumba sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, eksposur Internasional menjadi salah satu untuk menjadikan tenun ikat sebagai ciri khas lain dari tekstil Indonesia selain batik.

Festival Tenun Ikat Sumba yang digelar 31 Mei sampai 6 Juni mendatang di Tambaloka, Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan festival kain yang digelar untuk pertama kalinya. Pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Provinsi mengundang 2.017 penenun untuk dilibatkan dalam festival tersebut.

Penenun kain ikat Sumba yang ikut serta berasal dari empat kabupaten di Nusa Tenggara Timur yakni Kabupaten Sumba Barat Daya,  Sumba Barat,  Sumba Tengah t, dan Sumba Timur. Para penenun tersebut akan menunjukan keahlian mereka dalam menenun kain ikat yang punya kekayaan motif, mulai dari memintal, mengikat benarng, memberi pewarnaan hingga merangkai menjadi kain tenun utuh.

Menurut Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya, Festival Kain Ikat Sumba tidak hanya sekadar menunjukkan kain tenun dari proses pembuatan. Atraksi festival tersebut juga akan disertai dengan pertunjukan mode, pameran kain, dan seminar kain tenun ikat Sumba.

Untuk menarik wisatawan mancanegara, Dinas Pariwisata setempat juga membuat paket wisata  berkuda untuk mengeksplorasi situs-situs pariwisata di Sumba. Selain pameran kain, para pengunjung festival juga akan disuguhkan dengan atraksi tarian kolosal khas Sumba yang merepresentasikan kebudayaan setempat.

Selain mengembangkan aksesibilitas ke kawasan pariwisata daerah beserta faktor pendukung yakni hospitality (tempat menginap), atraksi menjadi daya tarik yang juga tak kalah penting. Festival serupa seperti Festival Danau Toba yang digelar beberapa waktu yang lalu menjadi salah satu aktivasi untuk menggenjot ekonomi kreatif di daerah.

Meskipun kain tenu ikat sudah sangat populer di beberapa provinsi di Indonesia Timur seperti Waingap, Alor dan sekitarnya, kain tenun Sumba menjadi salah satu yang paling terkenal karena banyak perancang busana yang menggunakan tekstil dari Nusa Tenggara Timur tersebut sebagai  material dasar untuk desain-desain pakaian.

Keunggulan tenun ikat Sumba sendiri juga banyak menggunakan pewarna alam yang membuat kesan earthy (membumi) sehingga harganya pun jauh lebih mahal dibandingkan tenun ikat Jepara yang juga tak kalah populer di kalangan masyarakat.

Eksposur Internasional

Di tataran global, tekstil kain ikat Sumba dan Jepara sudah ada di panggung mode dunia saat ETRO, salah satu rumah mode asal Italia menyuguhkan desain pakaian yang berbahan dasar kain ikat Jepara dan Sumba pada koleksi ETRO Menswear Spring-Summer 2017.

ETRO memang dikenal sebagai rumah mode yang menggunakan tekstil kenegaraan hasil dari warisan kebudayaan setempat. ETRO pun juga menjadi salah satu rumah mode yang juga punya bisnis turunan  sebagai eksportir kain.

Dalam desain ETRO Menswear Spring Summer 2017 yang bertajuk Blue Ikat, desain-desain yang menunjukkan kain ikat sangat kentara pada pada setiap model yang berjalan di atas runway. Anda akan melihat beberapa desain outer, t-shirt, celana, dan beberapa desain pakaian lainnya yang sangat menarik mata. Koleksi tersebut juga memberikan kesan bahwa pakaian berbahan tenun menjadi salah satu representasi untuk dikenakan saat berlibur.

Di Indonesia, tenun ikat menjadi salah satu desain dasar dari rumah mode IKAT Indonesia di bawah Didiet Maulana yang juga punya tujuan untuk mempromosikan warisan kebudayaan Indonesia di kancah regional dan internasional. Desain Didiet Maulana pun dibuat se-modern mungkin agar tenun ikat bisa dipakai di berbagai kesempatan bukan hanya untuk acara formal saja. Hal itu menjadi model promosi batik yang sebelumnya punya nilai pakem dan dipakai oleh beberapa kesempatan. Saat ini, banyak desain batik yang sangat casual dan cocok untuk segala kesempatan.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2017 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account