Fotografer Yumna Al-Arashi Tantang Persepsi Perempuan Arab

Fotografer Yumna Al-Arashi dan Persepsi Baru Perempuan Arab

Velodrome – Apa yang tersirat dipikiran kamu tentang gambaran perempuan Arab? Fotografer Yumna Al-Arashi punya persepsi yang lain tentang perempuan Arab.

Stereotype tentang gambaran perempuan di sebuah negara, terutama Arab Saudi, sudah ada pakemnya sendiri. Beberapa aturan agama dan pemerintah menempel di stereotype tersebut. Fotografer keturunan Arab yang tinggal di Los Angeles dan New York ini memiliki persepsi yang lain. Hal tersebut ia tuangkan dalam karya fotografinya.

Fotografer Yumna Al-Arashi dan Persepsi Baru Perempuan ArabDalam lingkaran budaya, ide untuk mengabadikan sebuah potret perempuan Arab telanjang di hammam (bak mandi spa) dan communal bathroom adalah sebuah langkah berani yang dilakukan oleh Yumna. Hal ini bisa menjadi sebuah tantangan untuk citra perempuan timur tengah yang beragama muslim, cenderung mengekspor tubuh mereka secara eksklusif kepada pasangan atau suami mereka, serta saudara perempuan yang masih muhrim.

Atau masih ingatkah film Sex and The City yang sengaja memperlihatkan agedan saat perempuan muslim di Timur Tengah yang memakai burka tetapi mereka tetap fashionable ketika mereka di lingkungan perempuan lainnya. It’s surprising culture, actually.

Hasil karya fotografi Al-Arashi membuka sebuah persepsi lain tentang perempuan Arab yang diidentikkan dengan eksklusifitas tentang eksplor tubuh. Ia mengundang beberapa perempuan Arab yang berpenampilan casual dan gemar bercengkerama layaknya orang pada umumnya. Ia menggambarkan sesi sebelum pemotretan dengan menjabarkan fakta bahwa para perempuan tersebut bermain dengan gadget mereka bahkan ada yang merokok sembari menyeruput kopi dan teh.

Al-Arashi memang tidak hanya membidik perempuan yang beragama Islam kala itu. Al-Arashi yang tumbuh di Washington DC, Amerika Serikat, adalah seorang putri dari Diplomat Yaman, dan ibunya pun berasal dari Mesir.

Ia mencoba memotret perempuan Arab dan dunianya beserta dispora di negara tersebut. “I don’t only photograph Muslim women. A Muslim country isn’t necessarily closed off to other religions,” terang Al-Arashi melalui Vogue.

Pasti ada alasan di balik karya seni yang kontroversial. begituun dengan AL-Arashi yang terinspirasi membuat karya fotografi tersebut ketika ia mengunjungi sebuah hammam di Tunisia, yang saat itu sedang mengerjakan proyek tentang tato wajah wanita Muslim di sana. Dari istu, ia mulai bersafari ke beberapa hammam di negara-negara TImur Tengah untuk mengetahui para perempuan ini dengan gambaran fakta yang berbeda.

Karya Al-Arashi dipamerkan dengan hasil berupa foto dan film pendek. Pameran tersebut dinaungi oleh ASOS Supports Talents program (online fashion dan beuty superstor asal Inggris). Karyanya pun dipajang di New York dan Los Angles, negara yang punya pandangan kaku tentang perempuan Timur Tengah, bahkan apapun tentang negara Timur Tengah.

Al-Arashi berpendapat bahwa banyak orang tidak mau melihat langsung apa yang terjadi di dunia perempuan Arab yang berujung pada stereotip atas persepsi citra mereka. Setelah menemukan berbagai fakta dari hanya masuk ke hammam, ia pun terkejut dan tertegun dengan fenomena di balik itu. Ruang tersebut ternyata malah membuka pikiran atas sebuah pakem yangs elama ini meracuni orang yang memandang citra perempuan Arab.

Jangan meremehkan Al-Arashi yang memang jago banget masalah pematahan stereotip terhadap muslim khsuusnya perempuan. Karya sebelumnya yang ia buat adalah Nike ad campaign beberapa waktu lalu yang memperlihatkan wanita muslim sebagai atlet berhijab yang mengenakan produk olahraga dari brand asal negeri Paman Sam itu.

Dalam frame foto, Anda akan menemukan sebuah gambaran beberapa wanita muslim antara umur 20 sampai 60 tahun yang mengenakan handuk di atas pinggul yang sangat rileks menikmati waktu mereka di hammam. Ada pula foto yang mengkspos payudara perempuan tersebut, foto perempuan dengan body type yang beragam.

Adapula wanita yang dengan piercing dan tato. “I really want to show these spaces for what they are, because they’re important to so many people in this culture,” Al-Arashi said. They’re places where people just laugh and talk about everything. It’s really beautiful, and really normalizing,” ungkap Al-Arashi.

Source : vogue.us

Editor : MP Jathia

6 Comments
  1. aji saputra 6 months ago

    Wah, jadi pengen ke Arab …

    • rendragraha sustrihardya 6 months ago

      Sekalian perbaikan keturunan ya bang?

  2. abuthoriq 6 months ago

    Menurut ane itu bukan masalah stereotype, tp lebih kpd akidah. Arab Saudi yang mayoritas muslim hrsnya lebih paham akan hal ini.

  3. Imam 6 months ago

    Artikel yg bagus, tp banyak typo.

  4. adeliasalsa 6 months ago

    masalahnya ada di si photographer, bukan dr objeknya. dia mmg suka merubah stereotypes

    • agungyanto 6 months ago

      Tapi asik kok hehehe

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2017 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account