Immersive Dining Menikmati Makanan Dipadu Konsep Theatrikal Pertama Di Indonesia

Whitewood – Pernahkah anda membayangkan jika anda menyantap makan siang dengan dipadukan konsep theatrikal ? Hal ini lah yang digagas oleh 11 mahasiswa/i Universitas Prasetiya Mulya jurusan S1 Event Management yang tergabung dalam SMARA. Konsep  Immersive Dining merupakan  merupakan kegiatan menikmati pertunjukan theater sambil menikmati makanan mulai dari  makanan pembuka (appetizer), hidangan uitama (main course) sampai dengan makanan penutup ( dessert ).

Mengambil tempat di Dapur Babah Elite, Jakarta Pusat pada hari Selasa, 10 Juli 2018, Immersive Dining kali ini mengambil tema dan cerita “The Agony of Princess Wu”, sebuah kisah  yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1915 mengenai salah satu keluarga keturunan Tionghoa terkaya di Indonesia.

Acara santap siang ini dibuka oleh seorang aktor yang bernama Kazo, sebagai kepala pelayan di sebuah restoran bernuansa Tiongkok. Kazo membuka acara dengan menyambut para undangan sebagai ‘cucu-cucu oma’ yang sedang menghadiri sebuah jamuan makanan keluarga.

Kazo menyapa tamu undangan sebagai “cucu Oma”

Sambil menunggu kedatangan ‘Oma’, para undangan disajikan oleh hidangan pembuka Sup Merah. Setelah hidangan pembuka selesai, Oma yang diperankan oleh seorang aktris masuk ke dalam ruangan dan membacakan sebuah cerita tentang keluarga Wu. Dalam cerita ini, dikisahkah terbentuk dinasti keluarga Wu dan perjalanan keluarga mereka.

Dalam beberapa adegan para tamu juga disuguhi dengan iringan dan musik yang menarik sesuai tema ‘The Agony of Princess Wu’. Saat adegan pesta pernikahan keluarga, para undangan disajikan makanan utama yang seakan-akan sedang berlangsung suatu jamuan makan dalam sebuah pesta pernikahan. Yang unik dari Immerse Dining adalah para undangan seakan-akan dibawa masuk  dan terlibat dalam cerita yang dibacakan.

Menikmati hidangan utama

Di akhir sesi acara, para pemain yang terlibat dalam Immersive Dining berkumpul bersama dan menyanyikan sebuah lagu penutup yang berisi pesan moral dari cerita ‘The Agony of Princess Wu’. Menurut Venantius Vladimir Ivan selaku sutradara pertunjukkan Theatrical Appetit: The Agony of Princess Wu, “Ini merupakan sebuah terobosan dalam mencari bentuk baru dari seni pertunjukan, atau performing arts yang kita coba padukan dengan kegiatan makan.”

Sementara Menurut Christopher Gunawan selaku project manager dari Thetrical Appetit: ‘The Agony of Princess Wu’ mengungkapkan, “Indonesia memiliki segudang cerita yang masih bisa diceritakan ke publik dengan berbagai pesan moral yang bisa diambil. Kami sadar untuk dapat menceritakan cerita – cerita itu kita harus memiliki sebuah wadah untuk dapat
berkarya. Maka dari itu kami membuat sebuah wadah yang unik dan menarik untuk bisa menuangkannya. Sehingga untuk kedepannya kami akan terus mencoba untuk dapat menggali cerita lainnya untuk bisa dinikmati oleh masyarakat luas.”

Berbeda dengan Indonesia, Immersive Dining justru telah berkembang pesat di luar, seperti ‘Queen of The Nigh’t yang berasal dari New York, Amerika Serikat, Secret Studio Lab yang berada di Hong Kong, The Murder Express yang telah dikenal di London,Inggris dan banyak nama besar lainnya yang dapat menjadi cerminan bahwa kreasi dan inovasi tidak akan pernah habis, dan adanya peluang yang besar untuk mempersembahkan hasil karya baru bagi seluruh masyarakat.

Penasaran dengan Immersive Dining atau  Theatrical Appetit ?

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account