Ketika Sosok Dylan Siap Membuat Kantung Kebudayaan Di Daerah

Whitewood – Mendengar nama Dylan di era millenial sekarang pasti langsung teringat nama Dilan dari novel ‘Dilan 1990’ karya Pidi Baiq yang juga telah difilmkan dan menjadi film terlaris di tahun 2018. Tetapi nama Dylan yang satu ini tidak berhubugan dengan nama Dilan di novel maupun film.

Adalah Dheyna Hasiholan atau yang akrab dipanggil Dylan, seorang aktivis kelahiran Jakarta, 12 Juni 1975 yang mempunyai segudang pengalaman di berbagai aktivitas dan saat ini berkeinginan membuat kantong budaya seperti yang pernah ia lakukan pada tahun 90-an di lingkungan kampus almameternya, di Universitas Indonesia (UI) dan sekitarnya.

Untuk awal, Dylan akan membuat kantung kebudayaan dengan membuat kedai kopi sebagai sarana berkumpulnya para pegiat seni di daerah sekitar Purbalingga, Kebumen dan Banjarnegara dan diharapkan bisa menjadi media apresiasi bagi pegiat seni di daerah tersebut.

Dylan sendiri adalah seorang politisi yang juga aktif di dunia teater sejak masih kuliah maka tak mengherankan jika perhatiannya akan dunia teater sangat besar. Dylan banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat berkumpulnya para pegiat seni. Di sana dia berdiskusi dan bertumbuh, baik secara intelektual maupun secara jaringan.

Di masa 90-an, pria lulusan Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, jurusan Bahasa Inggris lulusan 1996dan lulusan Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, Program Kekhususan Hukum Internasional lulusan 2002 ini, pernah membuat sebuah warnet dengan harga sewa sangat murah. Sejak awal warnet itu memang tidak untuk berbisnis, namun memang sengaja untuk tempat berkumpul, dan memang warnet itu tak pernah sepi.

Dylan menjelaskan tentang visi kantong budaya

Tak hanya itu, Dylan dan beberapa teman juga membuat sebuah komunitas unik yang dinamakan Cak Tarno Insititut. Ini adalah komunitas yang ada di penjual buku bernama Cak Tarno, dan kegiatan komunitas adalah ‘menguji’ skripsi anggota komunitas dengan diskusi secara bebas. Jika skripsi anggota itu ‘lulus’ di Cak Tarno Institut maka kemungkinan besar juga akan lulus di ujian sebenarnya. Komunitas ini pun sudah ‘menghasilkan’ sekitar 30 doktor dan banyak lagi lulusan S1 di UI.

Salah satu ide untuk mewujudkan visinya,suami dari Nur Komala Dewi  ini,membentuk “#Teman Dylan yang merupakan suatu tawaran solusi sebagai wujud untuk mewadahi gerak kreasi dan kreativitas pemuda (kelompok milenial) dalam berbagai bidang seperti seni-budaya.

“#Teman Dylan adalah suatu tawaran solusi sebagai wujud dari memulai mewadahi gerak kreasi dan kreativitas pemuda (kelompok milenial) dalam berbagai bidang seperti seni-budaya. #Teman Dylan bukan sekedar icon kedekatan hubungan personal orang per orang semata, tetapi ini juga adalah kolabarasi ide kreasi & kreativitas lintas latar belakang untuk mengakselarasi pemberdayaan potensi masyarakat dari berbagai komunitas, seperti komunitas seni budaya,” ujar Dylan di temu dengan media di Ground 57, Hang Likeu, Kebayoran Baru, Jum’at (26/10/2018)

“Para pemuda membutuhkan ruang untuk apresiasi dimana saya akan membuat semacam kedai apresiasi, disitu nantinya akan ada stage yang menghadirkan live music, pantomin, sampai yang sekarang lagi booming, stand up comedy.”

Selamat berjuang Dylan

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account