Menilik Kultur Inovatif Fashion Ala Tommy Hilfiger

Menilik Kultur Inovatif Fashion Ala Tommy Hilfiger

Velodrome – Brand fashion asal Amerika Serikat, Tommy Hilfiger, memang sudah dikenal secara global.  Jatuh bangun sang penggagas brand yang memulai dari usaha jeans itu menjadikan brand ini semakin matang. Founder Tommy Hilfiger yakni twisti Thomas Hilfiger terkenal di mata dunia dengan menswear design dengan tampilan yang preppy. Maklum saja, penampilan pira Amerika Sekirat pada 1980an identik dengan look yang rebel, streetwear, dan cowboy.

pada 2015, Tommy Hilfger meraup pendapatan sebesar US& 6.5 juta dari hasil penjualan ritel. Apa yang membuat Hilfiger belajar dari kegagalan di masa lalu dan menjadikannya sebagai perusahaan ritel fashion global yang inovatif?

Saat ini, Tommy Hilfiger menjadi sorotan pecinta fashion bukan hanya pria tetapi juga wanita. Melihat kolaborasi Hilfiger dengan Gigi Hadid yang lalu, brand tersebut mampu menyesuaikan dengan zaman dan mampu mengadaptasi keinginan desainer muda seperti Hadid.

Pertunjukan mode Hilfiger pun bisa dibilang menarik perhatian dengan menyajikan set yang kreatif dibarengi dengan desain pakaian yang penuh eksperimen. Hilfiger seperti kembali pada nadi Amerika tetapi menatap perkembangan zaman.

Beberapa waktu yang lalu Business of Fashion mewawancarai founder Thomas Hilfiger dan CEO Tommy Hilfiger, Daniel Grieder. Mereka membago cerita hasil kesuksesan saat ini yang berasal dari reinovasi dari tim yang terlibat dalam perusahaan.

Thomas Hilfiger mengatakan, kesuksesan brand fashion tidak hanya berasal dari desain koleksi yang ditampilkan tipa tahun. Orang-orang yang di dalamnya menjadi sebuah investasi untuk mengantarkan Hilfiger menjadi organisasi perusahaan fashion yang kuat. Petinggi perusahaan menyediakan wadah yang bisa mewujudkan sebuah inovasi dalam proses inkubasi ide.

Hal tersebut tidak hanya berlaku dalam departemen saja tetapi semua lini pekerjaan termasuk bisnis. Hilfiger mengarahkan setiap orang dalam perusahaannya untuk berlaku layaknya entrepreneur dalam prektek kerja mereka setiap hari.

CEO Daniel Grieder mengungkapkan, meomentum untuk menjadi brand yang inovatif harus dibarengi dengan keinginan untuk merubah setiap aspek dalam bisnis setiap hari. “It’s about being open to do things differently”. Sebuah aksi dalam pembuatan koleksi saat ini harus bisa merelfeksikan masa depan.

Perusahaan harus mampu cepat bereaksi dari sebuah perubahan yang semakin cepat. “Risiko terbesar adalah tidak mengambil risiko sama sekali,” unglap Grieder melalaui Business of Fashion.

Hilfiger mendeskripsikan DNA brand saat ini sebagai penanaman visi 2020+ yang mempunyai tiga pilar utama. Pertama adalah consumer-centric. Kedua, kemampuan adaptasi untuk berubah, dan ketiga adalah menempatkan produk sebagai raja (King). Dukungan atas hasrat inovasi diinvestasikan melalui implementasi dari inisiatif untuk menjajal inovasi itu ke pasar.

Dalam praktik kerja perusahaan, Hilfiger mereduksi proses kerja menjadi satu aliran yang mereduksi waktu untuk market dalams etiap koleksi. Mereka menggandeng setiap aprtner kerja dan mengarahkan penjualan ataupun showcase produk yang berbasis digital.

eberapa tahun ke belakang, high fashion brand memang menolak brand mereka terlalu kentara secara masif karena adanya media sosial online. Namun, beberapa brand tersebut akhirnya bijaksana untuk masuk ke dalam arus digital yang justru banyak menguntungkan.

Inivasi Hilfiger dalam Speed 360 menjadi momen untuk merumuskan sebuah kerja yang lebih efisien dalam fashion. Inovasi dilakukan dalam berbagai aspek baik desain, development, sourcing, produksi, warehouse dan distribusi. Dengan komitmen pada inovasi, kultur inovasi mendorong setiap orang dalam setiap departemen perusahan untuk membawa ide-ide segar. Grieder menetapkannya dalam prsoses Discuss, Decide, dan Deliver.

Hasil dari perubahan kultur perusahaan Hilfiger, mereka juga harus membuat tim yang mengevalusi inovasi (innovation testers). Sebisa mungkin orang-orang dalam perusahaan memiliki pemikiran yang terbuka dan haus akan kebaruan. Dalam mengembangkan talenta pekerja di perusahaan, Hilfiger merangkul spirit inklusi dan keberagaman secara bersamaan untuk diaplikasikan dalam bisnis.

Contoh terbaru dalam Hilfiger collection pada pertunjukan mode adalah “See Now, Buy Now” hasil dari eksperimen dengan teknologi digital pada produk dan proses kerja pertunjukan fashion. Jadim bagi Anda yang berniat terjun langsng dalam industri fashion Tanah Air, tidak ada salahnya belajar dari brand besar yang sukses mengantarkan nama mereka di kacamata global melalui sebuah komitmen inovasi. Selamat mendesain, berinovasi, dan berkarya!.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account