Pengaruh Hardware Dengan Tone Pada Gitar

Velodrome – Mungkin kamu juga termasuk salah satu gitaris atau basis yang belum merasa puas dengan karakter sound dari instrumen kesayangan. Atau malah ingin meniru karakter sound sang idola namun bingung apa saja yang mesti diganti.

Seiring proses waktu dan bertambahnya pengetahuan tentang instrumen dan referensi sound serta jam terbang yang semakin tinggi, biasanya musisi ingin memiliki tone spesifik yang ingin diimplementasikan pada instrumen yang mereka mainkan.

Tone yang dimaksud di sini bukan knob potensio tone seperti yang terdapat pada bass dan gitar, tetapi karakter suara dasar sebuah instrumen ketika dimainkan dengan atau tanpa amplikasi. Tanpa ampli kasi, instrumen elektrik yang kita sedang bicarakan ini tetap memiliki karakter tone dasar.

Cobalah memainkan beberapa jenis dan merk instrumen lalu bandingkan tone nya. Seperti yang kita tahu dan sering disinggung pada pembahasan di Divertune, komposisi kayu, hardware, dan pickup memberi kontribusi karakter tone sebuah instrumen. Namun satu karakter tone tidak berarti lebih baik atau lebih bagus dari yang lain. Seperti hal yang klise, semuanya tergantung selera.

Ketika membicarakan tentang tone, cakupan pembahasannya sangat beragam, mengingat banyak elemen yang mempengaruhi pembentukan karakter tone. Pada manusia, tone bisa dibaratkan seperti karakter suara yang keluar dari tenggorokan. Ada yang berjenis bariton, sopran, tenor hingga alto. Hal yang sama berlaku juga untuk instrumen berdawai. Jika mau di-breakdown, hal-hal berikut ini mempengaruhi karakter dasar tone :

– Material kayu bodi dan neck/ ngerboard dan konsruksinya

– Panjang skala (scale length) – Material hardware ( fret dan ukurannya, nut, bridge dan saddle)
– Tipe bridge

– Konstruksi sambungan neck ke bodi

– Action senar
– Senar
– Pickup
– Ketinggian pickup ke arah senar – Komponen elektronik

– Pickguard dan materialnya – Pick dan cara picking

neck guitar2

Kamu bisa lihat, ternyata dari ujung headstock hingga ujung bodi, hampir semua elemen mempengaruhi karakter dasar tone. Sebagian dari topic diatas pernah dibahas disini dan beberapa juga sering kami sebutkan dan tekankan ketika mereview instrumen, untuk menjelaskan bahwa hal tersebut memberi peran pada karakter dasar instrumen tersebut.

Material kayu bodi dan neck jelas memberi pondasi dasar tone sebagai media resonansi yang diteruskan dari getaran dan energi senar. Silahkan buka Musiccorner edisi IV untuk mengetahui karakter-karakter dasar kayu.

Panjang skala yang berbeda akan memberikan tensi/ketegangan yang berbeda pula walapun menggunakan set senar yang sama. Panjang skala 25 1⁄2” yang biasa terdapat pada Fender memiliki jarak antar fret yang lebih  renggang, memberi tegangan yang lebih besar (pada kondisi in tune A-440) dan de nisi low-end yang bagus serta tone yang bright.

Sementara skala 24 3⁄4” Gibson memiliki jarak antar fret yang lebih rapat, tegangan senar yang lebih rendah, playability yang lebih mudah dan sound yang lebih warm.

Variasi material nut dan bridge sebagai titik akhir getaran senar juga menjadi faktor perubah tone karena merupakan bidang yang menjadi tumpuan senar. Pada nut, tone hanya berpengaruh pada open string. Selanjutnya ketika memencet senar, material fret mengambil alih tone.

Cobalah sebanyak mungkin memainkan instrumen yang memiliki nut yang berbeda material seperti tulang, graphite, kuningan, stainless steel hingga gitar dengan zero fret.

Build-your-own-guitar-kits

Pada bridge dan saddle, tone bisa lebih drastis lagi karena tidak dipengaruhi posisi open string atau fretting not. Walaupun sepintas terkesan sama saja dan tidak mempengaruhi tone, material saddle dapat meng-improve karakter sebuah instrumen.

Dari luar, mayoritas bentuk saddle terlihat sama, tapi itu karena lapisan chrome dipermukaannya, di bagian dalam, materialnya bisa terbuat dari logam besi (steel), alumunium, kuningan, tembaga dan berbagai logam lain yang berbeda beda karakter tone ketika digunakan sebagai material untuk saddle dan bridge.

Kamu bisa membuktikan karakter logam logam ini misalnya dengan memainkan Telecaster yang memiliki 3 saddle silinder kuningan pada vintage series dan 6 steel saddle pada modern tele. Saddle kuningan memberikan tone yang lebih warm dibanding steel yang lebih punch, bright dan sustain.

Jika ingin riset yang lebih dalam lagi, kekerasan dan treatment selanjutnya dari logam logam tersebut juga mempengaruhi tone. Pabrikan boutique pembuat saddle dan bridge seperti Callaham, Glendale, TonePros, dan Pigtail yang membuat aftermarket bridge untuk Fender dan Gibson menjual hardware penggantian diatas harga orisinil part-nya karena kecanggihan teknologi, material, dan improvement tone yang didapat.

Saya pribadi mengganti saddle steel pada Fender dengan saddle graphtech berbahan Boron Polytrinate untuk mengurangi kadar bright-nya. Bukan berarti saddle steel tidak bagus, hanya keinginan personal untuk membuat midrange lebih menonjol di gitar tersebut.  Konstruksi dan jenis tipe bridge hard tail lebih dipercaya menghasilkan tone yang lebih baik dari bridge tremolo. Kontak yang solid antara bridge ke bodi instrumen menghasilkan stabilitas tuning dan penambahan sustain.

Begitu pun dengan sambungan neck kebodi. Sambungan tanpa baut (menggunakan lem) seperti pada set-neck dan neck through dipercaya banyak orang lebih memiliki sustain yang panjang dari sambungan bolt on. Teori ini tidak seluruhnya benar karena masih bergantung pada faktor faktor lain seperti konstruksi area neck join dan banyaknya lem yang digunakan. Terlalu banyak lem justru dapat meredam tone dan sustain karena menjadi penghambat transmit getaran senar.

Tanpa bermaksud promosi, Yamaha RGX A2 yang kebetulan kami review di edisi ini memiliki sustain yang bagus dan panjang melebihi gitar dengan konstruksi set neck tipikal padahal menggunakan konstruksi bolt-on. Silahkan buktikan sendiri. Pickup termasuk faktor yang signi kan dalam membentuk karakter tone dasar sewaktu menggunakan ampli kasi. Ketika sound gitar atau bass dirasa kurang, penggantian pickup yang

lebih berkarakter dapat dilakukan seiring banyaknya varian pickup yang tersedia dalam karakter karakter yang berbeda, sehingga dapat dipilih sesuai dengan tone yang dikehendaki. Namun pada prosesnya pilih memilih pickup yang sesuai memang membutuhkan proses waktu dan trial ‘n error yang hanya bisa di rasakan oleh player itu sendiri. 

Beberapa catatan tentang pickup :

– Semakin sering mencoba berbagai macam karakter pickup, semakin tahu karakter pickup yang diinginkan.

– Tidak berarti pickup bawaan pabrik selalu jelek dan tidak berarti high-end pickup selalu bagus dan cocok.

– Pickup yang digunakan artis idola belum tentu cocok dengan sound kamu.

– Pickup hanya salah satu mata rantai sumber pembentuk sound. Jika mengharapkan hanya dengan mengganti pickup dapat memiliki sound artis idola, itu suatu pemikiran yang keliru.

– Jika melihat karakter pickup hanya dari spesi kasi di
atas kertas (tone chart: bass,middle,treble), DC resistance, dan tipe magnet,… tidak 100% soundnya akan seperti yang dikira. Kuping menjadi penilaian terakhir ketika sebuah pickup diramu dengan komponen komponen lain.

Cobalah menaik-turunkan pickup mendekati dan menjauhi senar. Kadang cara ini sudah cukup efektif merubah tone sebelum memutuskan untuk menggonta ganti pickup.

guitar pick up

Beberapa gitaris percaya pickup yang disekrup langsung ke bodi (direct mounted) tanpa menggunakan ring atau pickguard dapat membantu sustain dan tone yang lebih baik. Namun hal ini menjadi cukup subyektif karena ada juga yang lebih memilih tetap menggunakan pickguard untuk ‘menggantung’ pickup agar menghasilkan tone vintage yang spesi k.

Penggantian komponen elektronik yang baru dan berkualitas dapat membantu ‘menyegarkan’ nyawa instrumen. Komponen lama (potensio) yang penuh debu dan partikel partikel lain, dapat menghambat penghantaran sinyal pickup.

Mengganti nilai kapasitor pada tone kontrol dengan nilai yang lebih kecil juga dapat menambah variasi sound, yang dapat dimainkan (tidak terlalu mendem) ketika potensio tone dimatikan. Keberadaan pickguard dan bahan materialnya (pada gitar yang memiliki pickguard sebagai penutup rongga bodi), percaya atau tidak, dapat berpengaruh ke tone.

Ketika senar dipetik, sebagian gelombang suara akan memantul ke permukaan pickguard (dengan kekerasan yang berbeda beda tergantung material) dan mere eksikan lagi ke polepiece pickup. Untuk sekedar eksperimen seperti yang dilakukan Eddie Van Halen, kamu bisa mencopot pickguard, sekrup pickup langsung ke kayu dasar di rongga bodi, dan dengarkan perbedaannya dengan memakai pickguard.

Dalam sebuah obrolan dengan seorang luthier, memberi masukan tentang pickguard dari kayu rosewood. “Pickguard dari kayu yang terlalu tebal dapat membuat karakter suara lebih bass” katanya. Ada satu cerita tentang tone dan teknik picking. Sewaktu pembuat pickup legendaris Bill Lawrence selesai bermain di sebuah café, seseorang menghampirinya dan menanyakan bagaimana dia dapat berpindah posisi pickup dengan cepat dari bridge ke neck bahkan sewaktu phrasing.

Guitar-Picks

Bill hanya tersenyum sambil menunjukan gitarnya yang ternyata hanya memiliki satu pickup di posisi neck. Beliau berkata bahwa teknik dan posisi picking yang membuat tone-nya dapat berubah dan merepro tone pickup bridge. Selain teknik, ketebalan pick juga tentu saja ikut mempengaruhi tone-nya juga.

Cukup banyak kan hal hal yang mempengaruhi pembentukan tone? Hal tersebut pun baru dari sisi internal instrumennya saja, belum dari faktor eksternal seperti kabel, pedal efek, ampli, speaker, microphone, ruangan, dan sederetan daftar panjang lainnya.

Sementara sebagian faktor internal dan eksternal tidak memiliki pengaruh yang cukup signi kan untuk merubah tone secara drastis. Tetapi paling tidak, kita mendapat gambaran bahwa tone menjadi sesuatu yang cukup kompleks dan universal.

Jangan lupa, sumber tone yang paling berpengaruh justru dari playernya itu sendiri. Dengan instrumen, efek, ampli dan susunan set-up sound yang sama, karakter tone dan soundnya dapat berbeda sama sekali jika dimainkan oleh dua orang yang berbeda. Satu hal yang absolut.

Dua individu yang berbeda memang seharusnya memiliki ‘suara’ yang berbeda. Nah, tentunya kamu sudah bisa membayangkan jawaban dari pertanyaan yang muncul di awal tulisan ini.

 

2 Comments
  1. Afrodyy 6 months ago

    Artikel bermanfaat min. Bagus ni buat orang awam kaya saya buat nambah wawasan

  2. Teguh 4 weeks ago

    Trims atas tuisannya. Menjadi knowledgment tambahan utk sound guitar

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

©2019 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account