Perayaan Musisi Indie Berbagai Genre Di GaraGaraMusik (GGM)

Whitewood – Musik selalu menjadi alasan orang untuk menemukan ruang personalnya sebagai ekspresi atas suatu peristiwa, atau perenungan atas tragedi liku hidup mereka. GaraGaraMusik (GGM) menjadi medium para musisi indie ini bertukar pesan lewat berbagai genrenya, untuk menjadi suatu karya yang lebih universal.

Usai merampungkan serangkaian lokakarya tentang dunia musik, tutup bulan Agustus ini saatnya para musisi indie yang telah dikurasi sejumlah 12 kelompok (solo, duo, grup, dan instrumental) merayakan karya mereka secara bersamaan dalam helatan Release Day GaraGaraMusik, kemarin (31/8) di Paviliun 28, Jakarta.

Fia dan Gabriel Mayo merupakan dua orang di balik kerja kolektif ini. Bertepatan juga dengan hari lahir Paviliun 28 yang setia menjadi venue musisi ini unjuk karya, kita diperdengarkan petikan musik dari 10 musisi total dari 12. Kedua belas musisi tersebut di antaranya adalah Riuh Sunyi (Tersembunyi Rahasia), Seruang (Kaki-Kaki), Alfin Hiarce (Senyumku Adalah Dirimu), Elpida (Belum Lima Menit), Huhu & Popo (Peron dan Hujan), Venessa Adverta (Senyap Namun Riuh), Are You Alone (Senjaku), Amboro (Ketika Hujan Turun), Attar & Rahel (Bingkai Hati), Rumput Liar (Jenuh), Arya Novanda (I), dan Nia Aladin (Chemistry).

Saat press conference Fia & Gabriel Mayo menjelaskan tentang Release Day GaraGaraMusik.

Showcase dari para musisi tersebut berlangsung meriah dengan tata lampu yang apik dan penonton yang ramai. Menambah semangat para partipan penampil. Di akhir acara, disuguhkan penampilan dari bintang tamu Semenjana. Mereka menjadi satu grup musik yang merepresentasikan keberhasilan perjuangan band indie untuk bergerilya dengan spirit yang diangkat di GaraGaraMusik

Semangat para musisi ini menelurkan karya pun berangkat dari motif berbeda-beda, berdasar genre masing-masing. Adalah Elpida, duo folk yang digawangi Bagus dan Yustin Sastarini, salah satunya. Mereka menciptakan lagu berjudul Belum Lima Menit.

“Ini menjadi kiasan pertemuan dengan orang berlangsung cepet banget. Semoga bisa sedikit merenung tentang kehilangan, juga menjadi terobati bagi kita karena mereka yang telah meninggalkan kita duluan,” ungkap Bagus dalam konferensi pers Release Day Gara-Gara Musik di Paviliun 28, Jumat (31/08).

Bagus tersulut oleh peristiwa saat ia harus banyak ditinggalkan terlebih dahulu oleh sesama kawan-kawan musisinya. Suatu waktu, ia melihat interaksi di sosial media dan ada komentar yang menyebut, “belum juga lima menit bertemu,” ternyata orang itu sudah tiada. Suatu makna dalam untuk merenungi kepergian, juga sekaligus sebagai terapi untuk kita yang ditinggalkan.

Berbeda dengan Rumput Liar, yang terinspirasi dari peristiwa bangsa ini. Salah satu punggawanya, Aldi membeberkan kisah di balik terciptanya lagu bertajuk ‘Jenuh.’

“Ini keresahan kami bersama dan merasa ada kejanggalan di negeri ini. Lagu ini tercipta 11 April, saat tragedi penyiraman air keras dialami pejuang anti-korupsi Novel Baswedan. Dan sampai sekarang pelakunya masih belum ditemukan.”

Lewat medium Gara-Gara Musik inilah, para musisi indie lintas genre saling memperdengarkan pesan yang mereka bawa. Sang penggagas, Gabriel Mayo pun merasa tidak menyangka antusiasme sesama musisi indie semakin meningkat terhadap GGM. Respons yang muncul, dan dampaknya menjadi suatu jalinan proyek kreatif antar pelaku industri musik. Salah satunya seperti yang dialami Amboro. Ia mengaku spirit merekam lagunya terjadi lewat serangkaian lokakarya GGM dan dipertemukan dengan Adoy untuk bekerja sama dalam merekam musik eksperimental yang diinginkan Amboro.

“GaraGaraMusik ini memang menjadi wadah, dan ternyata sekarang makin ramai, antusiasnya makin tinggi. Banyak yang pingin belajar dan saling bertemu. Tujuannya memang itu, mempertemukan dan saling berbagi ilmu para musisi lintas genre, lintas generasi dan juga membangun network,” ujar Fia sang penggagas.

“Setelah Release Day GaraGaraMusik akan terus rutin berjalan 1 bulan sekali tiap bulannya, semoga kedepan semakin banyak musisi-musisi indie yang mengikuti workshop, belajar bareng dan berbagi ilmu,” ungkap Nia Samantha sekaligus menutup Showcase Release Day.

Semangat para musisi ini menelurkan karya pun berangkat dari motif berbeda-beda, berdasar genre masing-masing. Awalnya Nia Samantha selaku program director Paviliun 28, dimana Pavilun 28 menjadi ruang bagi musisi-musisi indie untuk berekspresi. Nia mengajak Fia dan Gabriel Mayo untuk membuat acara yang menjadi wadah musisi-musisi indie dalam bentuk obrolan santai seputar industri musik

Salah satu partisipan penampil “Elpida” saat showcase Release Day GaraGaraMusik.

 Fia dan Gabriel Mayo sebagai inisiator, konseptor dan juga moderator GaraGaraMusik  membuat workshop rutin bersama Paviliun 28, dimana workshop berjalan 1 bulan sekali dengan tema seputar industri musik yang tiap bulan temanya berbeda-beda, juga dengan narasumber yang berbeda-beda tiap bulannya. Dimana GaraGaraMusik sebagai tempat para musisi indie untuk bertemu, berbagi dan belajar seputar industri musik yang lahir atau dimulai sejak November 2017.

Di bulan Mei – Juli 2018 berjalan rangkaian workshop yang temanya saling berkaitan dengan gong Release Day : Rilis karya bareng2 karya partisipan terpilih yang telah melalui proses kurasi. Dengan syarat telah mengikuti minimal 3 rangkaian workshop GaraGaraMusik dan mempunyai karya / single dalam format Master.

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account