Tren Perkembangan Startup 2018 di Indonesia Menurut Para Investor

startup

Velodrome – Kesuksesan tiga startup tanah air yang pernah meraih predikat Unicorn oleh GO-JEK, Tokopedia dan Traveloka rasanya akan sulit terulang pada tahun 2018 nanti. Hal ini tak lepas dari masih kurangnya developer berkualitas di Indonesia, begitulah prediksi pada investor dilansir dari techinasia.com (07/11).

Jika memang stratup lainnya ingin mengikuti jejak para unicorn, maka mulai lah banyak belajar dari para startup dari negeri tirai bambu, lanjut para investor. Pernyataan sebelumnya yang menyebutkan bahwa di 2018 tidak aka nada yang mampu meraih predikat unicorn kembali diamini oleh Wilson Cuaca.

Ia yang merupakan Managing Partner dari East Ventures menyatakan, “Ada jarak yang cukup besar antara startup besar tersebut dengan para startup menengah di Indonesia,” ujarnya.

Namun Pieter Kemps selaku Vice President dari Sequoia Capital masih memiliki harapannya kepada para startup tanah air, “memang masih butuh waktu untuk mengejar GO-JEK, Tokopedia, dan Traveloka. Namun bukan berarti perkembangan startup tanah air tengah kering”.

startup

Peter Kemps, Sequoia Capital’s Vice President

“Hal ini bisa dilihat dari gelombang pertama para startup yang berasal dari bisnis marketplace, transportasi, dan travel. Mereka telah mencuat ke permukaan dan sangat dominan saat ini. Namun yang menarik adalah apa yang akan terjadi saat memasuki gelombang kedua nanti?”

Pernyataan Kemps ini tak lepas dari apa yang terjadi pada negeri Tiongkok, dimana sebelumnya hanya terdapat tiga startup saja yang sukses, yaitu Baidu, Alibaba, dan Tencent. Namun kini telah muncul para startup lain dengan valuasi di atas Rp135 triliun, seperti Toutiao & Meituan.

Baca Juga : Aifloo, Startup Asal Swedia Tawarkan Gelang Cerdas untuk Manula

Meski begitu ada banyak permasalahan bisnis yang harus diselesaikan terlebih dahulu di Indonesia sebelum mampu mengikuti Tiongkok. Contohnya saja bahwa bisnis e-commerce yang saat ini tumbuh pesat saja baru mampu mencapai total transaksi sebanyak 2% dari keseluruhan transaksi retail yang ada.

Tak melulu bicara permasalahan bisnis saja namun juga perkembangan developer berkualitas di Indonesia masih terhitung lambat. “Saya bisa katakan kualitas developer di Cina kini telah setara dengan Amerika Serikat, berbeda dengan kondisi di masa lalu”, ujar Kemps.

Dengan banyaknya permasalahan yang muncul, mulai dari banyaknya perusahaan yang ada hingga besarnya operasional mereka, memaksa mereka untuk memperbanyak inovasi. Maka hal tersebut kini menjadi tantangan bagi mereka”, jelas Kemps lebih jauh.

“Kami telah berbincang dengan para startup, baik yang besar maupun yang kecil. Banyak dari mereka mengatakan “kami telah bertemu dengan setiap developer bagus di tanah air, dan kami tidak bisa menemukan developer berkualitas lain””, tutur Wilson.

startup

Willson Cuaca, East Ventures

Karena kekurangan developer bertalenta tersebut maka mengharuskan para startup besar ditanah air merekrut developer asing untuk bekerjasama dengan mereka. Ambil contoh saja GO-JEK, yang kini telah membuat pusat pengembangan di Bangalore dan sebuah pusat data di Singapura demi bisa menghasilkan dan mendapatkan talenta berkualitas.

Untuk bisa mempercepat pertumbuhan startup besar, maka para investor juga menyarankan agar para founder startup lokal terbang langsung ke Cina demi menimba ilmu kepada para founder startup disana. Minimal mampu meniru inovasi yang mereka lakukan.

Misalnya evolusi yang dilakukan oleh WeChat, yang awalnya adalah sebuah aplikasi chat, kini telah menjadi sebuah platform e-commerce, mulai dari game hingga video. Maka dengan masuknya investor Cina sekelas Alibaba kesini, mampu memberikan kontribusi teknologi dan ilmu ke startup lokal.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account