Smartphone Berbahaya untuk Remaja, Sebabkan Depresi Sampai Bunuh Diri

Velodrome – Sebenarnya sulit menyebutkan kapan tepatnya era smartphone ini dimulai. Beberapa orang menyebutkan era smartphone ini dimulai tahun 2007 yang lalu saat pendiri dan CEO Apple yakni Steve Jobs yang merilis versi pertama iPhone. Yang perlu Anda ketahui, smartphone sudah ada sebelum versi pertama iPhone itu. Dan beberapa orang lainnya menyebutkan jika era smartphone ini dimulai saat peluncuran Apple App Store pada 10 Juli 2008.

Di zaman yang sudah serba gadget ini, banyak kemudahan yang bisa dirasakan. Sebut saja berinteraksi semakin mudah, informasi yang didapatkan cepat, dan masih banyak lagi yang lainnya. Keberadaan berbagai gadget ini juga perlahan-laahn merubah kehidupan manusia. Misalnya saja, sekarang sudah banyak sekali kegiatan berbasis online yang semakin digemari.

Meski menyuguhakn segudang kemudahan, berdasarkan lapora dari TheAtlantic, remaja yang tumbuh di era smartphone ini lebih rentan terhadap depresi dan pemikiran untuk bunuh diri. Penulis Atlantik yanki Jean M. Twenge, menempatkan mereka yang lahir antara tahun 1995-2012 ke dalam kelompok iGen. Inilah orang yang tidak pernah hidup tanpa koneksi internet dalam kehidupan mereka, dan mereka bahkan lebih tertekan dari pada generasi milenial.

Dalam hal tersebut, Twenge benar-benar menyalahkan smartphone sebagai penyebab kerentanan stres dan bunuh diri pada kategori iGen. Namun masalahnya adalah kelompok iGen ini bisa terhubung dengan teman dan juga rekan-rekannya secara digital, terhubung interner. Dan semakin mereka menggunakan smartphone makan semakin banyak orang kategori iGen ini mulai merasa tidak nyaman dengan sentuhan manusia sejati.

Kasusnya, seorang gadis kecil berusia 13 tahun di Athena telah memiliki iPhone sejak berusia 11 tahun menyebutkan jika, “Kami tidak mengetahui kehidupan lain tanpa menggunakan iPad ataupun iPhone. Saya pikir, kita lebih mencintai ponsel kita dibandingkan dengan orang.” katanya.

Dan ternyata, itu sangat bisa terjadi dalam periode gadget seperti sekarang ini. Saat dilakukan penelitian lebih lanjut, laporan tersebut mendapatkan hasil semakin seseorang tetap terhubung dengan orang dalam 24 jam dalam seminggu, mereka benar-benar tidak menyukai orang di kehidupan nyata.

Laporan tersebut memberikan hasil yang cukup mengejutkan, anak-anak usia SMA yang menghabiskan waktu dengan media sosial selama 10 jam setiap harinya, 56 kali beresiko lebih tidak bahagian dibandingkan dengan usia seumuran yang menggunakan media sosial dengan intensitas yang lebih sedikit. Mereka yang menghabiskan waktu 6 sampai 9 jam dalam seminggu di media sosial 45 persen beresiko lebih tidak bahagia dibandingkan yang lebih sedikit terpapar media sosial. Jadi untuk kategori iGen ini, hasilnya “ Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain smartphone, maka semakin besar kemungkinan untuk gejala depresi”.

Sumber: phonearena.com

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account