Tranformasi Dior Menjadi Feminis Lewat Maria Grazia Chiuri

Tranformasi Dior Menjadi Feminis Lewat Maria Grazia Chiuri

Velodrome – Siapa yang tidak mengenal salah satu fashion house terbesar di Paris, Dior? Brand yang sudah mendunia itu kini dipegang oleh Maria Grazia Chiuri. Ia adalah desainer asal Italia yang punya pemikiran yang progresif untuk desain-desain Dior Womenswer di masa depan.

Tidak ada yang menyangka bahwa Dior akan memilih Maria Grazia sebagai satu-satunya creative director wanita pertema yang berdiri di garda depan secara solo? Dior pun menjadi brand yang sangat feminis.

Sang pendiri, Christian Dior adalah seorang pria yang dinilai mendambakan lekuk tubuh perempuan, atau bisa dibilang pencita wanita. Brand yang dibangun pada tahun 1946 itu sudah melalui berbagai transformasi. Setelah wafat, Christian Dior dipegang oleh Yves Saint LAUrent yang merupakan asistennya pada saat itu. Pemikiran Dior tentang tradisi desain yang sangat elegan, cheerful, dan indah pun masih diteruskan oleh Saint Laurent.

Setelah Itu, Marc Bohan dan Gianfranco Ferre menyambung tradisi Dior dengan lebih berorientasi pada masa depan tetapi tetap menonjolkan tradisi dior dengan gaun yang narrow wait dan mekar ke belakang. Namun, kedatangan John Galliano ke Dior mengubah persepsi pemerhati fashion tentang Dior.

Tranformasi Dior Menjadi Feminis Lewat Maria Grazia Chiuri

Sang legenda fashion, Christian Dior. Image : Dior.com

Pada masa Galliano. Dior terlihat lebih gelap, nyleneh, dan grunge. Galliano termasuk persona yang berani mengambil risiko untuk menggarap citra perempuan Dior menajdi lebih pemberontok.  Di saat yang sama, profit pun meningkat tetapi sekaligus  membuat Galliono harus rela keluar dari Dior karena sebuah kontroversi. 

Setelah itu, jabatan creative Director dipegang oleh Bill Gaytten yang hanya sanggup bertahan 1 tahun dari 2011-2012. Kursi itu pun digantikan oleh Raf Simons, desainer menswear asal Belgia yang berlatar belakang dari seni arsitektur. Pada masa Simons, Dior kembali muncul dengan citra yang simpel dan elegan. Tradisi gaun khas Dipr pun dirombak dengan referensinya dibidang arsitektur yang lebih geometris.

Dengan tekanan yang tinggi, Raf Simons pun akhirnya tak sanggup menghandle client Dior yang sangat beragam. Ia pun meninggalkan Dior pada 2015 setelah 3 tahun menangangi rumah fashion raksasa itu. 

Dior sudah terbiasa ditangani oleh pria-pria yang punya persepsi sebagai wanita, pria yang menyukai keindahan seorang lekuk tubuh perempuan. Ketika CEO Dior, Sidney Toledano, memutuskan memilih Maria Grazia, banyak yang menunggu koleksi Dior ketika digarap oleh seorang wanita.

Tranformasi Dior Menjadi Feminis Lewat Maria Grazia Chiuri

Unsur feminisme yang kental di fashion show pertama Maria Grazia Chiuri.

Maria Grazia meluncurkan koleksi pertamanya di bawah Dior pada panggung Spring-Summer 2017 dan berlanjut pada koleksi Fall-Winter 2017/2018 beberap bulan lalu di Paris Fashion Week. Debut pertamanya pun banyak menimbulkan respons positif dan berakhir pada tepuk tangan.

Jika dapat disimpulkan, wanita sangat dimenangkan ketika Maria Grazia menjadi creative Director.

Koleksi Dior pada SS 2017 Womenswear pun sudah kentara dengan label t-shirt yang bertulisakan “Feminist”. Dior ditangan Maria Grazia terbukti membuahkan hasil yang menjanjikan dikala ia bisa mentranslasikan fashion allure dan Dior’s Tradition dengan jauh lebih progresif, seprogresif perempuan saat ini. DIOR REVOLUTION!!!

Maria Grazia memang mempunyai aksen desain yanng lebih gelap untuk menonjolkan statement dari seorang perempuan. Ia membawa isu empowerment, energy, dan young spirit memalalui karyanya. Dior pun bukan lagi menjadi mode untuk orang dewasa tetapi juga perempuan muda.

Meskipun sisi gelap muncul di perempuan Dior, Maria Grazia pun berani menaruh model yang lebih boyish di barisan pembuka untuk memulai shownya. Di sisi lain, aksen gaun ala Dior yang dibalut dengan monocromatic black-and white typograph dinilai sangat kekinian.

Tranformasi Dior Menjadi Feminis Lewat Maria Grazia Chiuri

Image : Malay Mail Online

Dari segi elemen desain, kedua koleksi Meria Grazia lebih mengangkat elemen ruang angkasa seperti bulan dan mataahri yang diaplikasikan dalam artelier dan embroidery. So, It looked like elegent and strong at the same time. Wanita direpresentasikan sebagai sosok yang kuat dan tetap elegan dipanggung yang sama. Hal itulah yang menajdi momen di saat wanita sangat  dimenangkan di bawah tangan Maria Grazia.

Satu lagi, Dior Homme sebagai label Dior Menswear di bawah Kris Van Assche sepertinya mempunyai rasa yang sama dengan Maria Grazia yang merepresentasikan pria Dior sebagai  Pria yang elegant, strong, and dark at the same time. The look of women and men is tottaly diverse with the spirit nowadays.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Divertone.com - The Soul Of Inspiration

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account